728x90 AdSpace

  • Latest News

    Diberdayakan oleh Blogger.
    Jumat, 10 April 2015

    Membeli Nostalgia di Warung Kembar Kota Santri Martapura

    Aneka makanan khas Banjar, Kalimantan Selatan. Foto: tilikbjm.com
    SELALU ada alasan untuk mampir ke warung. Rasa lapar, penasaran, bersosialisasi, budaya, kebiasaan, atau mungkin nostalgia. Semua tersaji di sini, namanya Warung Kembar. Tempat kuliner yang menyajikan aneka panganan khas Banjar ini memang mampu menjawab semua. Setidaknya begitulah menurut saya.

    Menikmati nasi kebuli, bubur biji, bubur hintalu karuang, kue cincin, sop kacang hijau, kolak pisang, kue serabi, putu mayang, dan banyak lagi jenis makanan khas lainnya, tidak hanya melenyapkan rasa lapar. Tapi mampu juga memuaskan nostalgia indah masa kecil.

    Ketika menyantap gurihnya nasi kebuli, misalnya, tiba-tiba saja teringat betapa setiap pagi sebelum berangkat sekolah selalu dibawakan sarapan oleh kayi (kakek). Selepas salat subuh, kayi selalu pergi ke pasar membeli sarapan untuk orang satu rumah. Untuk saya, selalu ada nasi kebuli, satu kue cincing dan roti kukus. Kue cincin, saya santap setelah menghabiskan nasi kebuli. Sedang roti kukus saya bawa ke sekolah dan menyantapnya saat jam istirahat.

    Sejak kecil saya tinggal dengan kayi dan nini (Nenek). Abah (Ayah) meninggal dunia sewaktu saya kecil. Saya dan mama akhirnya ikut kai dan nini. Kolak pisang, kue serabi, dan putu mayang, saya ingat, merupakan panganan yang hampir selalu ada sebagai menu berbuka puasa. Kadang ada juga tetangga yang mengantarkan kue bingka ke rumah. Semakin lengkaplah menu berbuka kami sekeluarga.

    Bubur hintalu keruang. Iya, panganan ini juga mengingatkan saya dengan Acil Diah, pedagang bubur keliling yang bersuara nyaring. Bukan jam weker yang membangunkan tidur siang saya semasa kecil, tapi suaranya. "Bubur...bubur, yuu...hintalu keruang". Kadang dia iseng menjenguk ke jendela kamar dan menawarkan dagangannya. Maklum, karena sangat akrab, Acil Diah sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.

    Puluhan tahun berlalu, karena alasan melanjutkan kuliah kemudian bekerja dan ditugaskan di Kota Martapura, saya akhirnya sampai di Warung Kembar.

    Berada di jantung Kota Martapura, tepatnya di Jl Keraton Martapura. Kalau Anda baru pertama datang ke Kota Martapura, temukan dulu tugu Adipura Kencana yang posisinya tepat di muara jalan yang bercabang dua. Ambil cabang jalan yang kiri, dan ikuti terus jalan tersebut sejauh lebih kurang satu kilometer. Tidak sulit menemukan warung ini karena posisinya berada di pinggir jalan atau sekitar 50 meter dari Pasar Karangan Putih, pasar tradisional yang tidak besar.

    Kalaupun Anda terlanjur mengambil ruas kanan atau jalur jalan utama Kota Martapura, Anda tak perlu memutar balik. Terus saja hingga Anda mendapati sebuah pintu gerbang yang megah mirip Gerbang Kemenagan di Kota Paris Perancis, di sebelah kanan jalan (Gerbang Bumi Selamat). Nah, tepat di seberang Gerbang Bumi Selamat itu ada jalan masuk, Jalan Batuah namanya. Masuk jalan itu hingga mendapati pertigaan, ambil kanan. Sepuluh meter dari pertigaan itulah Warung Kembar berada. Cirinya, ada banyak motor pelanggan berjejer di depan warung. Masuk, dan pilihlah tempat duduk yang nyaman di antara tiga meja panjang yang tersusun dan diatasnya telah terhampar aneka panganan khas yang menggiurkan. Boleh juga lesehan di teras rumah pemiliknya. Namun tempat ini tidaklah luas, hanya berukuran enam meter persegi.

    Anda duduk saja dengan tenang, nanti akan ada pelayanan yang menanyakan minuman apa yang ingin Anda pesan. Namun kalau tak sabar menanti atau Anda ingin memesan makan yang belum tersaji di meja seperti sup kacang hijau, ketupat balamak, rawon, lontong Banjar, putu mayang, serabi, kolak pisang, bubur keruang, dan aneka makanan berkuah lainnya, Anda bisa mendekat ke kasir, dan pesanlah makanan yang Anda inginkan.

    Ada bingka, bingka barandam, kararaban, kikicak, bulungan hayam, kelalapon, cingkarok batu, wajik, apam, undi-undi, untuk-untuk, sarimuka, wadai balapis, cincin, cucur, lamang, cakodok, gaguduh, ronde, ilat sapi, garigit, sasagun, lupis, pais pisang, hintalu karuang, wadai satu, gincil, katupat balamak, bubur sagu, serabi, putri salat, patah, pais sagu, pais waluh,dadar gulung, agar-agar habang, wadai gayam, amparan tatak, sarikaya, dan lainnya masih banyak lagi.

    Cerita Hj Ainun pemilik warung, usahanya itu dimulai sejak tahun 1993. Warung ini tadinya hanya menjual makanan khas kota Martapura, yakni sup bubur kacang hijau, yaitu menu yang terdiri dari ketupat yang diberi kuah sop ayam dengan campuran kacang hijau.

    Tetapi karena begitu banyak pelanggan yang nyari kue tradisional lain, maka dijual pula aneka kue tradisional khas Banjar seperti bingka, kelapon, kikicak, cangkarok, wajik, lamang, kraraban, sarimuka, cucur, untuk-untuk, bubur randang, bulungan ayam, kulak pisang, kakoleh, puracit, lupis, putu mayang, babongko, serabi, dan kua lainnya.

    Menurut Hj Ainun, kue-kue yang dijual itu sebagian besar adalah buatan perajin yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. “Ada sekitar 30 pembuat kue, yang setiap hari menitipkan kue untuk dijualkan,” kata Hj Ainun.

    Warung tersebut buka mulai pagi hari dan biasanya pada sore hari tutup lantaran kue-kue itu habis dibeli orang. Tapi Anda jangan datang di hari Kamis, sebab warung ini tidak melayani pembeli.

    Selain melayani pembeli yang makan minum di warung itu juga bersedia memenuhi pesanan, seperti pesanan pengelola hotel dan restauran, pengelola kunjungan wisatawan, bahkan untuk acara kenduri atau acara selamatan yang memerlukan kue-kue tradisional sebagai persyaratan acara kenduri.

    “Kami sering membuat aneka kue tradisional yang terkenal bernilai magis, untuk upacara keagamaan, seperti lamang, cucur, wajik, bubur habang, apem, dan kue khas  lainnya,” katanya sambil melayani saya dan beberapa pembeli yang ingin membayar makanan yang sudah dimakan. Selain pemilik, Acil Ainun juga sering merangkap sebagai kasir dan kadang melayani pembeli yang memesan makanan-makanan berkuah.

    Untuk nasi kebuli, kue cincin, kolak pisang, dan secangkir teh manis, saya cukup merogoh uang Rp8 ribu. Ya, hanya Rp8 ribu saja. Warung Kembar selain terkenal sebagai warung panganan khas tradisional yang sangat lengkap, warung milik Hj Ainun ini juga terkenal murah. Dan yang paling penting bagi saya, nostalgia masa kecil yang hanya "tersedia" di tempat ini. (M Ramli Arisno)

    Tentang Penulis

    M Ramli Arisno adalah seorang jurnalis senior di Harian Radar Banjarmasin, koran Jawa Pos Grup di
    Kalimantan Selatan. Selain aktif menulis, lelaki yang akrab disapa Amang Iram ini juga sangat rajin berpetualang. Menikmati indahnya alam, sekaligus mencicip nikmatnya berbagai penganan khas di seluruh wilayah Indonesia.

    Satu hobinya yang agak jarang diketahui orang adalah menulis lagu. Beberapa lagunya sudah muncul di situs jejaring sosial Youtube. Lagu berjudul "Dia itu Aku" pernah menjadi lagu jawara dua dalam lomba cipta lagu Indosat di Banjarmasin. Lagu lainnya adalah Galuh Hati, sebuah lagu bertema cinta yang menjadi lagu tema sebuah novel dengan judul sama karangan Randu Alamsyah, novelis muda di Banjarmasin.

    Amang Iram dapat dihubungi di alamat facebooknya, https://www.facebook.com/Muhammad.Ramli.Arisno

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Membeli Nostalgia di Warung Kembar Kota Santri Martapura Rating: 5 Reviewed By: Travelopedia.co
    Scroll to Top