728x90 AdSpace

  • Latest News

    Diberdayakan oleh Blogger.
    Rabu, 08 April 2015

    Uji Konsistensi Koreografer Muda di Paradance #6

    Foto: Dwi Agus/ Radar Jogja

    SLEMAN, TRAVELOPEDIA.CO – Paradance terus menunjukkan konsistensinya dalam mewadai para koreografer muda di DI Jogjakarta. Memasuki tahun pertama, kegiatan yang digelar di Balai Budaya Samirono ini telah menampilkan puluhan koreografer muda. Paradance #6 menjadi tonggak satu tahun berdirinya acara ini.

    Inisiator Paradance, Agustin Pandhuniawati Heryani mengungkapkan, Jogjakarta memiliki potensi besar. Dunia tari tidak hanya berkutat pada gaya klasik dan tradisi. Seiring waktu, perkembangan tari di Jogjakarta juga terus bangkit.

    ”Wadah berkarya bagi semua orang dengan konsep tari untuk semua. Tidak harus berlatar belakang pendidikan tari tapi memiliki semangat tari. Sesuai moto Yang Tradisi Hingga Terkini, mewadahi semua jenis tarian, dari klasik, tradisi, kerakyatan, modern hingga kontem-porer,” kata kata Nia, sapaannya, ditemui usai pementasan Parandance #6 seperti dilansir Radar Jogja.

    Dalam kesempatan ini, Paradance menghadirkan tujuh koreografer muda. Ragam konsep tarian diusung dalam ajang ini. Dibuka oleh Hafida Kholifatul dengan karya tarinya yang berjudul Moksa. Nia pun turut menyumbangkan karya dalam ulang tahun Paradance pertama ini. Meski tidak menari secara langsung, namun dia menyuguhkan dua tarian. Tarian pertama berjudul Rotasi dan tari kedua berjudul Refleksi.”Tarian ini merupakan project Matematarika, yaitu teori matematika yang diwujudkan dalam gerak tari. Ingin membuktikan bahwa rumus matematika bisa diaplilkasikan menjadi sebuah tarian. Caranya dengan menerapkan teori kedalam pola gerak lantainya,” ungkapnya.

    Kolaborasi Caprina dan Winarti melahirkan karya berjudul Pantak. Karya kedua koreografer ini menggambarkan nilai spiritual. Terutama dalam menggambarkan sebagai perantara hubungan manusia dengan leluhur Suku Dayak. Giliran berikutnya koreografer muda Mila Rosinta Totoatmojo mengusung karya Aku dan “Aku”.

    Dalam karyanya kali ini Mila mengajak setiap pengunjung introspeksi. Terutama untuk mengenal dirinya sendiri dan tujuan hidupnya. Menurutnya, seorang koreografer perlu menunjukan eksistensinya. Termasuk dengan bersinggungan dengan khalayak umum. Pertemuan ini menjadi sebuah komunikasi untuk mematangkan karya seorang penari.

    ”Paradance ini juga sangat mendukung perkembangan teman-teman penari. Terjadi persinggungan dan berkomunikasi dengan cara yang unik. Dapat melahirkan ide-ide yang bisa diwujudkan menjadi karya ke depannya,” kata Mila.

    Penampil lain, Rendra Bagus yang memiliki basic silat mengusung karya yang tidak biasa. Meski tidak terwujud seperti tarian namun karyanya bercerita lebih. Dia menyoroti sebuah transformasi generasi saat ini, di mana mulai melepas sisi tradisi dan lebih memilih menjadi pemuda modern. Sementara itu, Elisabeth Nila tampil dengan karya yang berjudul Don’t Stop. Menggunakan musik berirama cepat, dia menyiratkan sebuah pesan yaitu agar Paradance terus berlangsung dan mewadahi semangat tari di Jogjakarta.

    ”Wadah itu sangat penting, sehingga semangat para penari bisa tercurahkan. Karya saya juga mengajak para penari untuk terus berkarya. Karena penari itu jiwanya di karya tarinya,” ungkapnya.

    Paradance #6 ditutup dengan penampilan kelompok Pandorarimaji. Kali ini mengangkat karya berjudul Osidirimaji yang menggambarkan tentang kelainan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Konsep ini merupakan pengalaman empiris salah satu anggota Pandorarimaji. (dwi/ila/ong/radarjogja)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Uji Konsistensi Koreografer Muda di Paradance #6 Rating: 5 Reviewed By: Travelopedia.co
    Scroll to Top