728x90 AdSpace

  • Latest News

    Diberdayakan oleh Blogger.
    Jumat, 30 Oktober 2015

    Sendirian Bersepeda Menyusuri Atap Himalaya

    Max Agung Pribadi saat saat mendirikan tenda di ketinggian 5.150 mdpl menjelang malam. Foto: Dok Pribadi

    MAX Agung Pribadi (42), sudah lama bermimpi bertualang dengan sepeda melintasi jalur maut Trans Himalaya-Kashmir (Srinagar- Manali) di Pegunungan Himalaya, India. Dua pekan lamanya dia gowes seorang diri menjelajahi jalur puncak para dewa tersebut. Dengan ketinggian 4.000-5000 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu yang dingin di bawah titik beku dan oksigen yang tipis menjadi tantangan terberat.

    ”Kali pertama mengayuh di Lembah Kashmir, saya seperti masih bermimpi. Ini adalah pengalaman terhebat dalam hidup saya,” kata Max Agung Pribadi seperti dilansir indopos.co.id (27/10). Cukup lama dia memimpikan petualangan bersepeda di jalur perbatasan India yang berketinggian 4.000 hingga 5.000 mdpl tersebut.

    Untuk mewujudkan rencana itu, langkah pertama yang dia tempuh adalah memimta izin istrinya. ”Dia diam saja, seperti biasa. Lalu terjadi diskusi, dan beberapa hari kemudian izin keluar dari istri,” ucap Max ceria. Maka, kira-kira setahun silam, Max pun mewujudkan rencananya.

    Dia menggandeng banyak pihak untuk mewujudkan mimpinya. Latihan fisik, perencanaan jalur, hingga perizin dan pendanaan dikebut. Keluarga besar Mahitala, Mapala Unpar Bandung memberi kontribusi yang tak sedikit atas rencana tersebut. 30 September 2015, pukul 07.30 waktu setempat, Max-sapaan akrabnya- mulai mengayuh sepedanya dari Lembah Kashmir.

    Lepas melahap Moesli (makanan campuran gandum, biji-bijian dan kacangan-kacangan dengan buah) roda sepeda besi touring yang berkapasitas 24 percepatan itu siap menyusur jalan dari Srinagar (Negara Bagian Jammu Kashmir) sampai Manali (Himachal Pradesh) di India yang melintasi Pegunungan HimalayaDalam setahun, jalur ini hanya dibuka selama enam bulan, antara Mei- Oktober.

    Sisanya, jalur tertutup salju dan tidak dapat dilalui. Hari pertama mengayuh, dilalui pria yang juga jurnalis ini dengan perasaan bercampur aduk. Antara gembira, cemas, dan penasaran semua menjadi satu. Ngarai, tebing curam, rekahan salju tebal di bentang alam Pegunungan Himalaya yang dinginnya mencapai minus 10-15 derajat itu tidak lagi menakutkan bagi Max. Tapi, menjadi anugerah dan pemandangan yang indah dari Tuhan.

    Salah satu bekal yang membuatnya tetap bersemangat adalah sepucuk surat dari anaknya yang memberinya semangat untuk mewujudkan cita-citanya. ”Surat itu selalu dibawa, berikut kalung rosario sebagai pemberkat doa. Setiap kali jalan itu paling tidak harus ada restu dari anak-istri.

    Ini pengorbanan mereka juga, kalau tidak, pasti ada yang mengganjal. Karena saya juga korban perasaan, menahan untuk tidak kangen sama mereka,” tutur Max. Bentang alam di perbatasan benua asia dan eropa itu memang membentuk topografi lempengan tanah dan gaitser berskala besar.

    Ketinggian gunung, ngarai dan tebing terjal yang menjuntai ukurannya di luar bayangan, dan tidak ada di belahan bumi manapun, kata Max. ”Memang keberhasilan ini dibilang dream come true, di luar bayangan kita lah. Gak sia-sia memimpikan ekspedisi yang temanteman bilang sinting dan gila ini,” ujar suami dari Skolastika Sandya Esti itu. Di hari ke-5, pada etape 100 kilometer mencapai Leh, Max sempat terpaksa mengalah.

    Demi mempersingkat dua hari waktu tempuh, Max menumpang truk yang melintas. Sepanjang 70 kilometer itu max hanya terduduk manis di bangku truk, dan melanjutkan gowes sepanjang 20 kilometer menuju Leh. Kala itu waktu menjelang malam, pukul 18.00 lebih waktu setempat. ”Kalau tidak begitu time line-nya akan terus bolong. Semua karena medan yang berat, gowes di ketinggian itu berbeda di jalan biasa.

    Oksigen-nya sangat tipis, untuk menangani itu saya bawa Oxy can (oksigen kalengan),” ujarnya. Perjalanan Max merengkuh mimpi itu pun sempat tertambat dengan kebocoran ban di Padang Pasir Trishul, selepas kota Thiksey. Ban sekali bocor karena tertusuk kerikil tajam di jalanan. Dia juga pernah terjatuh bersama sepeda saat mendaki Rohtang La (3.950m) karena sapuan angin kencang dari arah atas/depan.

    ”Jalan rusak, pendakian bertambah berat dengan angin kencang yang menerbangkan debu kuarsa. Sekali waktu angin berhembus sangat kuat, memutar stang sepeda, tak sempat saya tahan sehingga jatuh langsung mencium tanah dekat sisi kiri yang bertepi jurang dalam. Setelah itu saya tidak mau jalan di sebelah kiri tapi di kanan, menempel tebing, menghindari sapuan angin kencang yang bisa menjungkalkan ke jurang,” ujarnya.

    Kesunyian malam menjadi teman pesandaran Max di balik tenda kokoh four season yang ia kemas. Spot pendirian tenda dipilih agak menjorok ke dalam, di luar jalur lintasan supaya aman. Berusaha tidur nyenyak di ketinggian 5.150 meter di tengah padang salju itu, Max berjaket bulu angsa tebal di suhu minu. Begitu pun terjangan angin kencang saat mendaki Rohtang La di ketinggian 3.950 meter yang menjadi puncak terakhir pendakian sebelum sampai Manali.

    Sambil menikmati panorama gunung salju yang menakjubkan, Max bersyukur sempat mengibarkan bendera Merah-putih di lima titik lembah tertinggi jalur Trans Himalaya- Kashmir ini. Di Fotu La (4.100 meter), Taglang La (5.328 m), Lachulung La (5.059 m), Nakee La (4.700 m), dan Baralacha La (4.950 m).

    ”Kebanggan ini tak kalah istimewa saat saya bersama punggawa Mahitala Unpar menaklukkan Gunung Aconcagua (6.962 m) di Argentina pada 2011 silam,” ujarnya. Semangat di perjalanan berjumpa dengan pengelana sepeda internasional juga membangkitkan gairah Max merajut mimpi spiritualnya. Max bertemu sepasang pesepeda Amerika yang mengambil jalur berlawanan arah, Erick dan Amaya.

    Di Baralachala, Max juga ketemu pesepada asal Swiss, pasangan Martin dan Monica Schultz. Sebuah kesukacitaan yang tak terkira bagi Max setelah berhasil menempuh jarak 930 kilometer jalur trans Himalaya pada 14 Oktober 2015. Apresiasi pun datang dari kalangan pesepeda dan penjelajah baik domestik maupun mancanegara.

    Bahkan, kedutaan besar Indonesia di India yang memberi tempat peristirahatan bagi Max mendengarkan dengan antusias pengalaman luar biasa pria penggemar kegiatan alam bebas ini. Bersepeda di gunung tinggi ini memang tak selazim mendaki gunung. Penjelajahan ini juga termasuk ekstrem di Indonesia.

    Max sendiri yakin, hanya dia jurnalis dan pesepeda Indonesia yang baru merasakan keganasan jalur militer dari India menuju perbatasan Pakistan ini dengan bersepeda. Setahunya, Aristi Prajwalita, dokter perempuan yang sekaligus pesepeda legendaris asal Bandung, serta Bambang Hertadi Mas alias Paimo memang pernah melakukan ekspedisi yang sama.

    ”Tapi, tahun lalu itu Paimo hanya menempuh sebagian jalur Leh-Manali sejauh 260 km sekaligus mendaki Gunung Stok Kangri (6.153m),” katanya. Penggalangan dana yang mendapat dukungan penuh dari keluarga besar Mahitala Unpar, serta Rumah Sakit Siloam yang menyediakan obat-obatan tak luput dari kesuksesan ekspedisi ini, kata Max.

    Naik sepeda di Himalaya itu sudah kayak naik gunung salju karena cuaca dan ketinggian yang ekstrem. Peralatan yang dibawa juga peralatan persis seperti mau naik gunung. Pulang dari perjalanan, pada 14 Oktober 2015 itu, Max menyisakan cedera yang tidak ringan.

    Sepatu kets standar bersepeda yang ia kenakan sejak awal mengowes ternyata berbuah simalakama. Kaki-kakinya remuk karena dingin yang luar biasa di ketinggian 4.000-5.000 meter. Mestinya, dia memakai double boots penghalau kebekuan kaki di cuaca dingin. Meski tidak sampai frostbite (radang beku) dan harus diamputasi, syaraf permukaannya sudah kena. ”Tersiksa sekali.

    Untungnya bawa lotion dan minyak tawon yang menjadi andalan. Jari-jari kaki itu retak semua. Kering, beku, dan kulit pecah-pecah. Itu perih banget, kuku-kukunya kayak dicabutin gitu, di bagian situ saja yang habis, babak-belur,” katanya. Menurut Max, pencapaian petualangannya semua terjadi diawali oleh mimpi. Kita manusia memiliki keterbatasan, tutur Max, tetapi dengan mimpi manusia bisa menerabas keterbatasan tersebut.

    ”Mimpi dan semangat yang tanpa batas mewujudkan itu semua,” ujarnya. Menurutnya, dunia begitu luas dan sebuah kerugian bagi manusia jika membatasi diri. ”Soal finansial itu bukan yang utama, yang menguatkan itu di sini, mental dan pikiran. Buka saja peta, tunjuk mau kemana. Anda pasti bisa,” imbuh Max lagi. ”Jadi, jangan takut punya mimpi, tapi juga tidak berhenti di mimpi itu sendiri. Itu yang bikin kita semangat dan punya tujuan. Ekspedisi ini memang gila, semua rekan juga bilang begitu. Sinting,” tutup Max. (asep ananjaya/indopos)



    sumber: indopos
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Sendirian Bersepeda Menyusuri Atap Himalaya Rating: 5 Reviewed By: Travelopedia.co
    Scroll to Top